Belajar Budaya Tradisional untuk Merayakan Seollal!

Belajar Budaya Tradisional untuk Merayakan Seollal!

“Ayo, pelajari budaya tradisional Korea bersama kami!”

Seollal, Hari Tahun Baru Imlek, adalah salah satu hari libur utama Korea. Liburan ini berlangsung di sekitar bulan baru pertama dari kalender lunar dan merupakan saatnya bagi semua orang untuk saling mengucapkan harapan untuk tahun mendatang. Selama masa liburan, orang Korea juga berpartisipasi dalam upacara peringatan leluhur, membungkuk pada orang tua mereka, dan memainkan permainan tradisional. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang kebiasaan ini, ikuti Kayla dan Sebastian dalam kunjungan spesial mereka ke Institut Etika Korea!

Outline Program Budaya

  • Tanggal: 11 Januari, 2019
  • Tempat: Institut Etika Korea, 107, Seongmisan-ro, Mapo-gu, Seoul (서울특별시 마포구 성미산로 107)
  • Peserta: Kayla (Amerika Serikat), Sebastian (Argentina)· Jadwal 
    • 11:00-13:00 Memasak makanan Korea (tteokguk, jeon)
    • 14:00-15:00 Mengenakan hanbok / Salam Tahun Baru
    • 15:00-16:00 Bermain yunnori

Memasak Makanan Korea: tteokguk & jeon

Membuat tteokguk

 Seperti kata pepatah, “sepotong roti lebih baik daripada nyanyian banyak burung.” Bagian pertama dari perjalanan Kayla dan Sebastian adalah menyiapkan makan siang lezat berupa tteokguk (sup kue beras). Tteokguk adalah salah satu hidangan asli Korea, dan secara tradisional dimakan pada Tahun Baru. Hidangan ini dibuat dengan merebus kue beras putih yang diiris tipis-tipis dalam sup kedelai bening. Sebelum makan, setiap mangkuk dihiasi dengan daging, bawang hijau, dan telur; mandu (pangsit) juga bisa ditambahkan untuk membuat hidangan lebih mengenyangkan.

Dalam kunjungan mereka, sang guru memberikan tip sederhana untuk membuat rasa tteokguk lebih baik! Sebelum memasukkan kue beras ke dalam sup sampai mendidih, cuci dengan air dingin dan biarkan meresap selama sekitar 30 menit. Ini akan memberi sup rasa dan tampilan yang jernih. Mengikuti bimbingan instruktur, Sebastian dengan hati-hati menyiapkan kue beras dalam sup mendidih sementara Kayla dipuji karena hiasannya yang berseni.

Menyiapkan dongtae jeon dan yugwonjeon

Kayla dan Sebastian juga menyiapkan dua jenis jeon (pancake gurih) untuk dimakan bersama tteokguk. Jeon dibuat dengan cara melapisi sayuran, daging, atau irisan ikan dengan tepung dan egg wash sebelum digoreng dengan sedikit minyak. Jeon dapat dimakan kapan saja, tetapi sudah menjadi kebiasaan untuk memakannya pada hari Seollal dan Chuseok (Hari Pengucapan Syukur Korea). Nama setiap jeon bergantung pada bahan utama, seperti gul jeon (tiram goreng tepung), beoseot jeon (jamur goreng tepung), atau hobak jeon (zucchini goreng tepung). Kali ini ini, mereka menyiapkan dongtae jeon (fillet ikan pollack goreng tepung) dan yugwonjeon (bakso goreng tepung). Kayla sekali lagi menunjukkan keterampilan artistiknya dalam menghias, sementara Sebastian bertugas untuk memastikan bahwa semua jeon sudah matang sepenuhnya.

Dongtae jeon dibuat dengan menghangatkan irisan pollack kering sebelum direndam dalam campuran garam, merica, dan anggur beras bening. Setelah memastikan tidak ada air yang tersisa, irisan yang diasinkan dilapisi sedikit tepung, dicelupkan ke dalam egg wash, dan digoreng di atas api sedang-kecil. Yugwonjeon, smeentara itu, membutuhkan persiapan yang lebih banyak. Bakso dibuat dari mencampur daging sapi, tahu, bawang putih, dan bahan bumbu lainnya bersama-sama; kunci untuk yugwonjeon yang baik adalah memastikan ada sangat sedikit darah atau air yang tersisa di daging dan tahu. Setelah mencampur bahan sepenuhnya menjadi satu, gulung menjadi bola-bola kecil dengan tangan, dan kemudian ikuti langkah-langkah yang sama seperti dongtae jeon: tepung, egg wash, goreng! Agar bagian dalam bakso matang sepenuhnya, jaga agar api tetap kecil.


Mengenakan hanbok

Pengalaman mengenakan Hanbok 

Setelah makan siang, Kayla dan Sebastian mencoba hanbok dengan bersemangat. Sebagai pakaian tradisional Korea, desain hanbok sebagian besar tetap tidak berubah sejak dinasti Joseon. Meskipun hanbok bergaya modern dan hanbok imitasi mengalami peningkatan popularitas baru-baru ini, hanbok tradisional tetap dikenakan pada hari libur budaya dan selama upacara peringatan. Kayla dengan bangga mengaku sebagai maniak hanbok, dengan hati-hati memilih hanboknya berdasarkan warna dan gaya apa yang paling cocok untuknya. Ini adalah pertama kalinya Sebastian mencoba hanbok sejak perjalanan ke Jeonju dulu sekali; baginya yang terpenting dia tidak mengenakan hanbok warna pink.

Mengikat pita hanbok

Langkah paling sulit dalam mengenakan hanbok adalah mengikat goreum (pita) dengan benar. Pita membuat atasan tetap tertutup rapat, jadi ini sangatlah penting! Meskipun kamu bisa membuat semua jenis pita atau bahkan simpul sederhana, melakukannya dengan cara yang tepat akan menghasilkan hasil akhir yang indah. Cara mengikat pita yang tepat, silangkan goreum kanan di atas yang kiri sebelum menariknya kembali melalui keduanya untuk mengikatnya. Saat melakukan ini, letakkan tangan kirimu di atas dasi dan lilitkan goreum satu kali di sekitar tanganmu, ke bagian belakang sampai ke atas telapak tangan. Dengan tangan kananmu, buat bentuk pita dengan bagian goreum yang menggantung dan masukkan ke dalam celah pita yang melilit di tangan kiri. Setelah ini, cukup kencangkan dan sesuaikan agar hasilnya sempurna. Jika kamu telah mengikat goreum dengan benar, seharusnya hanya ada perbedaan sekitar 5 sentimeter antara kedua goreum tersebut.


Salam Tahun Baru

Mempelajari salam Tahun Baru

Setelah mengenakan hanbok, tiba saatnya untuk belajar salam Tahun Baru. Kayla dan Sebastian telah tinggal di Korea selama hampir sepuluh tahun, jadi mereka cukup akrab dengan salam Korea. Meskipun demikian, membungkuk sederhana sambil berdiri tentu lebih mudah dikuasai daripada membungkuk sepenuhnya sambil mengenakan hanbok! Kayla kesulitan untuk tidak menginjak roknya saat berdiri lagi, sementara ikatan pita goreum Sebastian terus lepas saat melakukan ini.

Keluarga berkumpul bersama pada hari Seollal, dan semua anggota akan memberikan salam Tahun Baru kepada para tetua keluarga. Cara membungkuk berbeda untuk pria dan wanita, tetapi keduanya sama-sama harus memperhatikan gongsu (posisi tangan). Untuk pria, tangan dipegang di depan tubuh dengan tangan kiri di atas tangan kanan; untuk wanita, tangan kanan di atas kiri. Instruktur memuji Kayla karena posisi tangan yang benar, tanpa mengetahui bahwa Kayla sebelumnya pernah menghadiri kelas etika Korea. Setelah sedikit latihan, keduanya siap membungkuk!

Salam Tahun Baru bagi wanita

Untuk salam Tahun Baru versi wanita, tangan, yang masih berada dalam posisi gongsu, diangkat ke atas ke dahi, sementara kepala menghadap ke bawah melihat ke arah kaki. Tangan akan tetap berada pada posisi ini sepanjang proses membungkuk sampai kembali ke posisi berdiri pertama. Saat melakukan ini, turunkan tubuh perlahan-lahan dan berlutut, dimulai dengan lutut kiri dan kemudian kanan. Dari sini, duduk sepenuhnya dan kemudian membungkuk ke depan dengan sudut sekitar 45 derajat selama tiga detik. Dari sini, cukup balikkan prosesnya, duduk tegak, berlutut, berdiri di kaki kanan dan kiri, sebelum mengembalikan kedua tangan ke posisi gongsu.

Untuk salam Tahun Baru versi pria, tangan yang berada dalam posisi gongsu diangkat ke atas dan ke luar dengan gerakan memutar ke arah mata sebelum turun ke lantai. Pria juga mulai berlutut dengan lutut kiri dan kemudian kanan sebelum duduk. Wanita hanya perlu membungkuk sedikit, tetapi pria harus membungkuk lebih jauh, menurunkan punggung mereka sampai membuat garis datar. Siku mereka harus diletakkan di lantai dan dahi mereka harus berada sedikit di atas tangan mereka di tanah. Jika dilakukan dengan benar, gerakan ini akan membentuk garis lurus dan rata dari bagian atas kepala sampai  bokong. Setelah menahan posisi ini selama tiga detik, angkat siku dari tanah dan duduk tegak, letakkan kaki kanan di tanah dan gunakan tangan dalam posisi gongsu untuk mendorong pada lutut kanan. Setelah berdiri, angkat satu tangan ke mata sebelum kembali ke posisi gongsu di awal.


Bermain yunnori

Yunnori

Pelajaran terakhir hari itu adalah bermain yunnori, permainan tradisional yang bisa dimainkan oleh semua orang! Permainan ini dapat dimainkan dengan sedikitnya dua orang; jika ada lebih banyak orang, para pemain dibagi menjadi dua tim. Setiap tim diberi empat bidak permainan, yang akan digerakkan mengelilingi papan. Jumlah langkah yang diambil berdasar pada hasil lemparan empat tongkat ke udara. Tongkat terbuat dari kayu kastanye dan memiliki satu sisi datar, sedangkan sisi lainnya yang berbentuk melengkung ditandai dengan "X". Tim pertama yang bisa menggerakkan keempat bidak permainan mengelilingi papan menang!

Sebelum mulai, Kayla and Sebastian bermain gunting, kertas, batu, untuk menentukan siapa yang akan jalan terlebih dahulu; Kayla menang. Di awal permainan, belum ketahuan siapa yang akan menang, karena keduanya mendapatkan angka yang sama, membuat bidak permainan lawan keluar dari papan. Namun, seiring berjalannya permainan, Kayla mulai membuat beberapa langkah strategis dan mampu melangkah maju untuk menang. Saat merayakan kemenangan, instruktur memberikan saran berikut: “Yunnori adalah permainan, tetapi menghabiskan waktu bersama lebih penting daripada menang atau kalah. Saat bermain, seluruh keluarga mendapat kesempatan untuk berkumpul dan berbagi cerita, semua merasa bahagia. "

Info Lebih Lanjut

☞ TIP) Sedang mencari aktivitas tradisional untukmu? Kunjungilah Desa Hanok Namsangol, Museum Rakyat Nasional Korea, Pusat Budaya Global Seoul, Desa Rakyat Korea, atau Rumah Korea! Tempat-tempat ini memiliki berbagai program pengalaman budaya tradisional yang dapat dicoba!
☞ 1330 Hotline Pariwisata Korea: +82-2-1330 (Bahasa Korea, Inggris, Jepang, Cina, Rusia, Vietnam, Thailand, Melayu)

* Kolom ini terakhir diperbarui pada Januari 2019, dan karena itu informasi mungkin berbeda dari apa yang tertulis di sini. Kami menyarankan Anda untuk mengkonfirmasi detail sebelum berkunjung.

 

 

Share This Article

Related Post

Taman Danau Suncheon

Fashion Mall U:US

Royal Motel - Goodstay

Lotte Hotel Jeju

Jembatan Yeongdodaegyo